Selasa, 30 Oktober 2012
SENYUMAN MANIS MENGAYUNKAN LANGKA DISAAT MATAHARI TERBIT
Detik demi detik jarum jam terus berputar, hangatnya mentari membuat pria itu lalai dengan suasana pagi begitu indah pada saat itu, sampai-sampai tidak terasa waktu terus berlalu.
Tidak lama kemudian, pria yang berkulit putih tersebut mencoba untuk melangkah mencari arti hidup yang sesungguhnya.
Pria yang lahir di sebelah mata hari terbenam tersebut, pertamanya tidak ada minat untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi, karna kondisi ekonomi keluarganya yang tidak mendukung, terkadang ia ingin juga bercita-cita untuk mengapai bitang di langit, dan ia juga berpikir hal yang biasa dilakukun oleh Almarhum ayahnya, keluarga yang sembilan bersaudara ini, setelah mereka lulus dari Sekolah Menengah Pertama (SMP), Almarhum ayahnya tidak memberi seorangpun anaknya untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, Almarhum lebih menganjurkan kepada anak-anaknya untuk masuk ke Pasantren, mengingat hal tersebut pria berkulit putih itu begitu sulit untuk melangkah lebih jauh. Pria yang sering di sapa oleh teman-temannya dengan sapaan Adul, Akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan sejenak kampung tercinta, pria yang berkelahiran 15 desember ini berkeiginan untuk bekerja di sebuah desa tempat kediaman Kakaknya, yang pada umumnya aktivitas masyarakat desa tersebut mereka bekerja membuat bata dari tanah yang bewarna kuning bagi mereka itu adalah emas yang sangat beharga.
Pria yang baru
bertamu di desa tersebut, tinggal bersama kakak nya yang telah lama menghunikan
desa itu, pria yang kelihatan nya begitu lelah, akhirnya dia membaringkan
sejenak untuk ber istirahat. keesokan harinya, suasana mulai terasa beda, pria
tersebut menikmati dengan secangkir kopi dan hangatnya mentari.
tak lama kemudian
mencoba mengayunkan langkah untuk mencari aktivitas di desa tersebut, kakaknya
yang selama ini berpisah denganya, mencoba mengajak pria tersebut pergi
disebuah tempat yang biasa kakaknya beraktivitas setiap matahari terbit sampai
matahari terbenam. kakaknya bekerja membuat benda yang berbentuk segi empat yang
di buat dari tanah liat sengat licin dan lembut, lalu kakaknya melakukan
pekerjaan itu dengan senyuman yang manis, yang membuat pria itu semangat untuk
mencobanya. waktu terus berlalu, matahari udah mulai mengambil posisinya
disebelah barat, mereka bergegas untuk pulang.
Esok harinya, pria
tersebut bangun tidur dengan begitu semangat, disaat mentari mulai menyinari,
pria itu mengayunkan langkah demi langkah tidak menunggu ajakkan dari kakanya,
ia langsung pergi melakukan pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh kakaknya,
begitu berat baginya mungkin belum terbiasa. Tak lama kemudian kakaknya datang
dia terkejut, lalu kakaknya menyapa dengan senyuman manis yang membuat dia
semangat untuk bekerja lebih keras lagi. hari demi hiri ia lalui dengan penuh
semangat dan bekerja keras, tidak peduli dengan keadaan dan waktu.
Waktu terus
berlalu,diseketika pria tersebut duduk termenung memikirkan bagaimana hudup
seseorang tanpa Ilmu, pria itu teringat kata guru pengajian TPA nya bilang, “Ilmu adalah sebuah cahaya yang menerangi
kegelapan, tanpa ilmu dunia ini terasa gelap,”
detik jam terus berputar, pria tersebut masih duduk terpaku merenungkan bagaimana nasibnya kedepan.
detik jam terus berputar, pria tersebut masih duduk terpaku merenungkan bagaimana nasibnya kedepan.
Beberpa bulan kemudian, akhirnya ia mencoba untuk mencurahkan sedikit keinginan hatinya untuk pergi melangkah mencari cahaya untuk pejalanannya kedepan kepada kakak yang selalu memberikan senyum menis untuknya. Keesokan harinya pria ini bergegas untuk balik kekampang halamannya, disaat mentari mulai menyinari bumi, pria ini dengan wajah begitu semangat tak sabar lagi ingin berjumpa dengan Ibu dan saudara-saudara kampung untuk melepaskan rasa rindu, dan mencurahkan keinginan hatinya yang selama ini.
Disaat pertengahan
tahun mulai tiba, anak kedelapan dari sembilan bersaudara tersebut berangkat
dari kampung halamannya meninggalkan Ibu dan saudara-saudaranya, pria
yang tak sabar lagi ingin melihat dan merasakan keindahan yang
diceritakan selama ini oleh kawan-kawannya.
waktu senja terasa lama berlalu, detik jarum jam terus berputar hingga malam tiba, dia tertidur lelap hingga pagi menyapa, Banda Aceh pun tiba.
waktu senja terasa lama berlalu, detik jarum jam terus berputar hingga malam tiba, dia tertidur lelap hingga pagi menyapa, Banda Aceh pun tiba.
Satu minggu kemudian, pintu Fak.Dakwah terbuka Jurusan KPI menyambutnya dangen
senang hati sampai detik ini.
penulis : Abdullah
LANGKAH YANG TERHENTI SINAR MENTARI AKAN KEMBALI
15 Maret 1991, sebelah Timur mentari
terbit memancarkan cahaya dengan penuh kehangatan, pagi begitu cerah pada saat
itu, mentari memancarkan sinar hingga barat ikut terang.
“Jantho Baru” adalah sebuah desa yang agak sedikit jauh dengan ibu kota, Pada desa itulah lahir seorang “Satria” yang membawa sinar pada saat itu, hingga aku mengenal seorang “Putra” yang begitu gagah cerdas dan berani.
“Jantho Baru” adalah sebuah desa yang agak sedikit jauh dengan ibu kota, Pada desa itulah lahir seorang “Satria” yang membawa sinar pada saat itu, hingga aku mengenal seorang “Putra” yang begitu gagah cerdas dan berani.
Kampus adalah salah satu objek yang
membuat semua orang bias dekat antara satu sama lain, hari demi hari di situlah
terlihat dan mengenal lebih dalam sosok Satria putra Jantho tersebut, tapi pada
waktu itu, satria belum begitu dekat dengan kawan-kawan unit nya dia hanya
berteman beberapa orang saja, hari-hari terus berganti tak lama kemudian,
tempat kuliah dah mulai masa proses rahabilitas yang butuh waktu angak sedikit
lama, dan mereka terpaksa harus pindah ketempat lain, Adidarma istana sementara
tempat, dia menuntut Ilmu dalam masa proses Rehabilitas tersebut. Dengan penuh
semangat
Waktu telah tiba, detik jarum jam tak
bias terhenti pada saat itu, ruangan tak sabar menunggu suara seorang Putra
yang selalu menghibur Teman-teman
dengan kecerdasan dan keberanian dalm berdiskusi, Satria putra nama lengkapnya,
nama yang tak asing lagi di unit dua, Satria adalah sosok orang yang ramah dan
peduli dengan keadaan,
semua Dosen dan teman-teman mudah sekali mengingat nama itu di sebabkan dengan keramahannya.
Pria bertubuh tinggi kurus itu juga
pernah menjadi
pemimpin unit dengan penuh rasa tanggung jawab dan peduli kepada anggota-anggota unit, Tapi sayang, seorang satria
harus rela tersisih dari kawan-kawan kampusnya. Niat tulus untuk terus
melanjutkan kuliah, tidak mendapat dukungan manis dari ekonomi keluarganya yang
tergolong pas-pasan. Saat itu juga ia memutuskan untuk berhenti kuliah sejenak
dan terus terjun kedunia kerja.Agustus hampir berakhir, informasi yang terdengar
seorang satria sudah
mulai bekerja di sebuah tempat yang tidak jauh dari tempat kuliahnya dulu, Barak
yang terletak disamping jalan yang selalu di lintasi oleh teman satu ruangnya,
yang sering dilihat walaupun hanya sekejab. Syukurnya ketika itu dia langsung
diterima pada sebuah perusahaan terkenal
yang mengontrak pembangunan drainase Kota Banda Aceh. Satria bersama 30
pekerja lainnya ditempatkan sebagai pekerja lapangan, yang bertugas
mengumpulkan bahan material kedalam satu paket untuk nantinya dicetak menjadi
sebuah precise.
Anak
ke tiga dari lima bersaudara tersebut,
juga selalu ingin tau dengan keadaan kampus, ia selalu berusaha meluangkan
waktunya untuk saling berdiskusi bersama teman-teman tentang keadaan mereka
masing-masing. Dia sosok penghibur, selalu bersemangat dan sangat percaya diri,
begitulah teman-temannya menjelaskan tentang diri satria. dalam kesibukan
kerjanya dia berusaha selalu ada waktu untuk teman- temannya yang dikampus, walaupun tak bisa bertatap muka, tapi suara satria juga
bisa terdengar di telinga kawan–kawannya melalui benda kecil, satria sosok orang memiliki wawasan
yang luas, yang sanggup memahami keadaan, baginya jauh bukan satu alasan untuk
tidak peduli kepada kawan – kawannya.
Tepat empat bulan setelah ia bekerja
pada perusahaan tersebut, diketahui satria tidak sadarkan selama dua hari.
Rekan kerjanya menyebutkan, satria terlampau semangat untuk bekerja. Bahkan
saat-saat istirahat pun ia lupakan, sebagai trik mengejar target. Sampai
akhirnya suatu hari ia roboh diatas tumpukan pasir menggunung dibawah cengiran
sang mentari.
“satria
harus beristirahat selama enam bulan dan dia tidak bisa bekerja dibawah terik
matahari lebih dari dua jam” begitulah pesan sang dokter kepada orang tuanya
sejenak sebelum membawa satria pulang kerumah.
Semenjak
kejadian itu, satria tidak lagi bekerja. Barang-barangya pun sudah diantar oleh
rekan-rekan kerja ketika menjenguk satria sakit. Setelah baikan ia bertekat
untuk kembali berkuliah, dengan catatan harus memiliki kerja sampingan sebagai
penompang hidupnya. Satria pun menyelesaikan administrasi kampus, dan mengubah
status diri dari mahasiswa nonaktif menjadi aktif kembali.
Waktu terus
berlalu, wawasan dan pengalaman semakin bertambah, dia
bekerja pada sebuah Cv yang aktif sebagai perusahaan pengadaan barang dan jasa.
Berbeda dengan karyawan lain,
dengan panuh semangat juang dan komitmen yang tinggi,
ia kerap menyelesaikan tugas kerjanya pada malam hari. Karena pada siang
harinya ia harus menjalani aktivitas kampus. Disaat rekan kerja meninggalkan
Satria untuk pulang ketempat tinggal masing-masing, justru tidak membuat
semangatnya pudar. Ia terus menyelesaikan tugas walaupun rasanya mata ingin
terpejam, kepala yang telah mengangguk, ia tetap harus mempertahankan nya,
karena masih ada setu dua lagi yang masih setia menatap kotak kecil itu, demi
tugas secara pelan-pelan, hingga nanti waktu yang telah ia atur untuk
beristirahat menyapanya.
Seperti malam-malam biasanya pria itu
telah duduk dengan sigap, di depan meja kecil yang telah penuh oleh tumpukan
lembaran-lembaran tebal. Suara iringan musik melayu kesukaannya melengking
sepanjang malam, menemani tarian jari-jari pria itu diatas keyboard
komputernya. Tak terasa malam semakin larut pria dengan wajah yang begitu
santai Seperti enggan lelah, jari-jari kecil
itu terus meloncat, menginjak huruf-huruf penanda yang terlihat mulai pudar. Sampai akhirnya alarm saat ia beristirahat
berbunyi, setelah jarum panjang arjoli berputar sampai beberapa kali dan kini
menunjuk kearah angka empat. Begitulah tanggung jawab seorang satria, Tapi Putra jantho itu tak
pernah bosan menemani malamnya hingga pajar mulai terbit.
Keyakinan diri satria bertambah ketika
dia diterima bekerja disebuah Cv, yang siap menerimanya walau masih seorang
mahasiswa. Sesuata yang begitu beharga baginya, semangat kuliahpun semakin
bertambah dan pengen rasanya ingin cepat-cepat menikmati suasana itu, Pimpinan
perusahaan menetapkan satria sebagai pekerja dimalam hari, sambil menjaga
pelanggan yang sedang melakukan browsing internet.
Waktu terus berganti, Pria
itu mulai berkuliah kembali dengan penuh rasa percaya diri dan semangat yang
tinggi sehingga Kawan-kawan menerimanya dengan penuh rasa keiklasan,dan ruang yang selama ini sepi, dengan kembalinya seorang
“Satria”susana ruang sudah hidup kembali. Kawan-kawan merasa senang pada saat itu, seorang “satria” yang
selama ini menghilang dalam keramaian tapi dia bisa kembali
lagi saat sunyi menghantui.
Disaat pagi mulai menyapa, Ia
mulai mengayunkan langkah kakinya untuk bergegas pergi kekampus, jalan pagi
sudah menjadi hal biasa baginya, itulah waktu olah raganya walaupu agak sedikit
lelah. Setiap mata kuliah dia ikuti dengan penuh keiklasan. Hingga jam kuliah berakhir, selama enam bulan waktu
meniggalnya dari barisan yang sebelumnya sejalan dengan kawan-kawannya, dengan
penuh keyakinan seorang satria berusaha meluruskan kembali barisan itu.
Waktu terasa
begitu cepat berlalu pada saat itu, hari yang dilaluinya penuh dengan canda dan
tawa sehingga teman-teman terhibur dengan candanya, dalam waktu yang begitu
singkat, Putra jatho itu terpaksa berpisah lagi dengan teman-temannya dengan
ruang dan waktu yang berbeda, karena Ia harus mungulangi lagi bersama waktu
yang sudah tertinggal.
Enam bulan kemudian, catatan perpisahan sudah mulai
tertutup, barisan yang tertinggal sekarang sudah mulai rapi, pria itu sekarang
sudah mulai berjalan kembali sebahu dengan kawan-kawannya, dengan ruang dan
waktu yang sama. Coretan tinta yang tertinggal sekarang sudah memiliki warna
yang sama.
Selain
mempunyai sosok pemimpin yang adil, Satria memiliki beragam hobi, berkarya
adalah sudah menjadi tenggung jawab untuk dirinya dalam kata lain itu memang
harus dilakukan, namun yang terus melekat adalah mengarang dan menulis puisi,
Ia
juga hampir setiap minggunya mengirim hasil karya puisi yang ia karang sendiri
ke redaksi koran-koran lokal. Namun sayang puluhan karya yang telah ia kirim,
hanya pernah terbit sekali. Itu juga mengalami kesalahan redaksi yang
menggabungkan karyanya dengan karya orang lain. Teman-teman yang menyadari hal
itu senantiasa memberi dukungan moral untuk satria, agar tidak pernah lelah
berkarya. Mereka percaya dan selalu meyakini satria bahwa suatu saat nanti
karyanya akan di cari orang.
Satria pun meng-aminin perkatakaan
kawan-kawannya itu. Walau mungkin ia hanya menganggapnya sekedar lelucon. Ia
juga sudah bertekad dalam hati untuk terus berusaha dan mengasah kemampuannya.
Seperti halnya membandingkan karyanya dengan karya orang lain yang sering
terbit. Satria mencoba untuk tidak pernah berputus asa, walau kadangkala
puisinya yang ia anggap bagus, namun tidak urung terbit.
Dengan semangat yang tak pernah pudar, puisi-puisinya sudah banyak diterbitkan di media-media masa, seperti koran
dan majalah lokal di aceh.
Dan ia juga memiliki wadah kusus untuk karya-karya yang telah siap disajikan
dengan kreatifitasnya yang begitu besar, Satria juga memiliki Blogspot tempat
untuk menuangkan karya-karya tercintanya
dan banyak juga dipersembahkan untuk kawan-kawan tercinta. Sampai
akhirnya mereka termotivasi untuk menulis karya-karya ilmiah, dan mulai giat
berlatih hingga menghasilkan karya-karya yang berbeda.
Ini adalah
salah satu karya tulis Satria putra yang ditulis pada tanggal 29 Febuari,
dengan judul “PEMBOHONG”
Aku
sering berbohong
Kadang
aku terpaksa,
Kadang
aku sengaja
Mungkin
karna aku sering berbohong
Aku
sudah biasa
Hidupku
tak pernah kosong
Semuanya
mudah
Karna
aku sering berbohong
Aku
tidak pernah takut
Apa
lagi pada yang menggonggong
Berikan
saja dia roti
Itu
sudah lebih cukup
Kenapa
harus khawatir
Berbohong
saja lagi
Mudah,
semuanya mudah
Karna
aku sering berbohong
Ayo
ikut..!!
Syurga
ada disini
Semuanya
lengkap
Aku
kembali berbohong
karya ini
ditulis disaat ruang watu yang kosong pada jam kerjanya, kenapa dia menuliskan
judul puisi itu “Berbohong”,,?? Kita ketahui berbohong itu dosa, tapi keadaan
pada saat itu satria memang harus berbohong pada dirinya sendiri, terkadang dia
lapar dia tidak menampakan kepada orang bahwa dirinya lapar, dan terkandang dia
lelah, juga tak ingin memperlihatkan lelahnya itu kepada kawan-kawannya, dengan
tujuan supaya kawan bisa semangat dalam menjalankan aktivitas, walau dalam
keadaan apapun.
Satria juga orang
yang selalu akrab dangan kawan-kawannya, yang selalu menghidupkan suasana hari
bagitu cerah, dengan pebgalamannya yang cukup, wawasan yang luas, dia selalu
peduli kepada teman-temannya yang malas untuk kuliah,dorongan dan motivasi-motivasi
selalu ada untuk kawan-kawannya, semangat juang selalu deberikan walau hanya
seuntai kata, tapi itu semua sangat bermanfat bagi orang lain. Satria adalah
pahlawan yang penuh rasa tanggung jawab. ia bisa kita ibaratkan “sepaerti lilin
yang rela bekorban demi keterangan”
Sifat rendah
hati yang tak bisa di pungkiri lagi dalam dirinya terkadang dalam canda ada
juga menyakitkan tapi itu sudah hal biasa, senyum adalah identitas yang selalu
di nampakakan, walaupun dalam kesedihan. Hal yang sering dilakukan disaat dalam
keramaian adalah menghibur, canda dan tawa selalu tercipta disaat bersamanya
itulah hal yang tak bisa dilupakan oleh kawan-kawan terhadapnya.
Dan dia juga memiliki sifat yang sedikit egois, yang cepat sekali mengambil
keputusan dengan tidak mengetahui apa yang terjadi sebenarnya, dan satria juga
orang yang tak boleh dibohongi sama sekali, kalau sekali dilihat hitam yang
seterusnya juga hitam. Begitulah sikap seorang “satria”.
Hari terus
berlalu, Satia terus bekerja keras untuk mempertahankan perjuangannya yang
sempat terhenti sejenak dalam perjalanannya, yang pada saat itu dia
tidak bisa berbuat sesuatu untuk dirinya, oleh karena itu, satria selalu berusah agar kedepan tidak terulang lagi
kejadian menyedihkan itu, walaupun kehidup yang dilalui sekarang penuh dengan
beban yang berat. Laki-laki jantho itu masih juga menemani malam walaupun badan
sudah mulai kurus. Sayang,,terkadang dia sadar untuk menjaga kesehatannya, tapi
apa boleh buat, keadaan selalu menuntut dia untuk selalu siap menjalankannya.
Harapan kedepan
yang selalu ditanamkan oleh seorang Satria adalah dari perjuangan dia sekarang,
Ia tak ingin selalu bernaungan di bawah orang lain, dia akan berusah untuk
punya usaha mandiri kedepannya, dia yakin dia juga bisa seperti orang yang
mampu dan sukses menjalankan usahanya, dengan mengandalkan pengalaman dan ilmu
yang di dapatkan disaat perkuliahan.
Begitulah perjuangan seorang satria yang
tak mengenal putus asa, yang selalu berusaha mencoba untuk bangun kambali dari tidurnya, walaupun banyak
rintangan yang harus dilalui tapi itu semua dilalui dengan penuh kesabaran,
keiklasan, semangat yang tinggi, dan ketabahan, do’a dan usahanya berjalan
bersama waktu, yang Alhamdulillah pada saat ini Satria putra sudah mampu
memenui kebutuhan dirinya sendiri, juga keluarganya. Dan kesenangan yang
dirasakan saat ini begitu mendukung untuk berkarya lebih bagus lagi dan juga
bisa membantu orang lain.
Pria yang berasal dari Kota Jantho
tersebut memiliki keinginan yang besar, dan ingin selalu melihat perubahan baik
itu pada dirinya maupun pada orang lain, dia sangat memiliki kemampun untuk
mengubah sebuah keadaan, dia senggup memberikan arahan, solusi, tapi sayang,
pria tersebut tidak mau mengerakkan jiwa dan raganya untuk kemajuan tersebut,
dia Cuma bias bermain dibelakang layar kayaknya, itulah sedikit kekurangan yang
ada pada pria tersebut, yang tak ingin memperlihatkan kemampuannya, pada hal
itu kepentingan bagi orang banyak, mmmm,,,!! sejauh ini kita tak tau apa yang
sebenarnya yang terpikir dalam pikiran anak yang berkelahiran 15 maret itu.
mungkin itu kepribadian seorang satria.
Hidupnya telah terorganisir dengan motto
yang ia tanamkan sejak pertama masuk kuliah.
“The
Best Life Is Never Complain. If Other Can, Why I Can’t” begitu kira-kira bunyinya. Dan sejak itu juga,
ia terus menjalani hidup dengan keadaan yang terus ia syukuri. Mencoba tetap
tegar dan tidak mengeluh , walau seberat apapun batu masalah yang ia pikul. Dengan
motto yang di tanamkan itu, Seorang Satria akan selalu berdo’a dan mengadu nasib
kepada Allah SWT, supaya Allah selalu memberikan kemudahan kepadanya.
Sekian,,!!
Ditulis 2 juni 2012
Penuliis
Abdullah and Satria Putra
Jumat, 26 Oktober 2012
Selasa, 20 Maret 2012
HAFIZ DAN PERAHU
RAHMI/410905645
Sepasang mata itu melirik kesetiap mahasiswa unit 2 yang sedang menceritakan pengalaman mereka. Sambil melipat secarik kertas ditangannya menjadi perahu, dengan memakai baju putih Hafiz tertawa sesaat ketika cerita yang ia dengarkan menjadi lucu karena komentar lelucon dari ayahnya untuk mahasiswa di ruang kuliah. Sesekali iapun menatap dosen kami Pak Fairus, Ayahnya.
Berbeda seperti biasanya, siang itu Hafiz menemani Ayahnya mengajar dikampus. Ia hanya duduk tanpa suara dengan tidak memperdulikan botol minuman berwarna kuning didepannya. Padahal cuaca pada saat itu sangat panas, dan ia tidak mencoba untuk meneguk sedikitpun air itu.
Matahari diluar begitu terik, tapi hafiz masih saja menunggu ayahnya selesai mengajar. Sambil terus-menerus mempermainkan kertas ditangannya, ia tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang menatap kearahnya. Tempat air minum itu masih membisu diatas meja ketika mata kuliah hampir selesai. Anak berwajah imut tersebut tetap saja melipat kertas ditangannya sampai membentuk sebuah benda yaitu perahu.
Tak terasa waktu terus berlalu, azan pun berkumandang. Seketika suasana ruangan menjadi senyap. Hafiz memainkan perahunya yang berlayar diatas meja sampai azan selesai. Kuliah kembali dilanjutkan, hafizpun mendengarkan apa yang disampaikan ayahnya hingga mata kuliah berakhir. Ia pun ikut keluar ruangan dengan menggandeng tangan ayahnya dan tangan satunya lagi memegang perahu hasil karyanya. Perlahan langkah mereka hilang dari ruang panas itu.
1.
Sepucuk Surat dari Tokyo
Seorang anak perempuan tomboi akhirnya memilih belajar di pondok pesantren setelah menyelesaikan belajarnya di bangku Sekolah Dasar (SD). Ketika itu, semua orang dibuat terkejut oleh pilihannya. Bahkan, hampir semua teman-teman sekelasnya tidak percaya ia akan lulus di sekolah barunya itu. Tapi, sosok anak perempuan tomboi itu tak pernah menyurutkan niatnya untuk mengecap ilmu dis alah satu pondok pesantren terpadu di tanah kelahirannya.Ia memilih pesantren Al-Falah Abu Lam U, sebagai tempat ia menimba ilmu. Walhasil ia pun diterima sebagai santri di sekolah barunya itu. Keluarga besar dan juga teman-temannya bangga akan hasil kerja keras dan kesungguhannya. Bahkan mereka juga menyempatkan waktu untuk mengantar ia ke rumah barunya, di suatu desa terpencil di Aceh Besar, yang dikelilingi oleh petakan sawah masyarakat sekitar. Tak ada yang tahu, kenapa ia memilih daerah terpencil itu sebagai tempat ia menuntut ilmu. Perempuan tomboi itu yang bernama Mikial Maulita.Tapi, kehidupan pesantren yang dipenuhi dengan seribuan disiplin membuat ia tidak betah berlama-lama menetap di situ. Bahkan ia juga meminta izin kepada orang tua untuk meninggalkan pondok itu. Tapi ayah dan ibunya selalu mengingatkan dia dengan seribuan harapan, yang menjanjikan kesuksesan agar dia tetap bertahan untuk menjadi seorang santri. Cewek tomboi itu pun menurutinya, walau terkadang ia kembali merayu mereka agar mengizinkan dia untuk pindah. Akan tetapi, lagi-lagi cewek tersebut gagal, dan mendengarkan segala nasehat yang disampaikan oleh ayahnya – Almarhum Saulida.Tak terasa, sudah hampir tiga tahun si tomboi tersebut menuntut ilmu di sekolah pilihannya, Sebentar lagi ia akan menyelesaikan belajar di bangku SMP. Lamanya waktu berjalan ternyata tidak pernah membuat ia lupa akan niat untuk meninggalkan jati diriku sebagai santri. Ketika ayah dan ibunya berkunjung ke pesantren, Cewek tomboi tersebut kembali mengatakan keinginan yang dulu untuk meninggalkan pondok dengan alasan yang berbeda.dia tidak lagi mengatakan tidak betah berlama-lama hidup terkurung di pesantren, tapi gadis tomboi itu hanya bilang, “Adik ingin merasakan pengalaman yang berbeda di luar sana,” begitu kata cewek bernama lengkap Mikial Maulita.“Ayah mau adik tetap sekolah dan belajar di pesantren ini. Insya Allah jika tiba waktunya, adik akan merasakan pengalaman yang jauh lebih berharga dari pada yang adik harapkan saat ini. Ayah mau adik menyelesaikan sekolah di pondok ini hingga wisuda nanti,” begitu kata ayahnya . Maulita hanya terdiam saat ayahnya berkata seperti itu, tidak sempat pun ia meng-iyakan amanahnya. Akhirnya dia hanya menyalami tangan kedua orang tuanya sebelum mereka berpamitan.Seminggu setelah ayah dan ibunya berkunjung ke pondok, tanah kelahirannya , Aceh, dilanda musibah gempa dan tsunami. Bumipun bergoncang pagi itu, tidak ada yang menduga bahwa air laut akan memporak-porandakan sebagian isi kota serta menghilangkan ratusan ribu jiwa. Namun, setelah Ustadzah Aan, salah seorang guru menyampaikan kabar duka bahwa tsunami melanda tanah Aceh, maulita hanya bisa berdoa dan berharap agar ayah dan ibunya baik-baik saja, dan selalu berada di bawah lindungan Allah. Hingga waktu berganti sore, tak ada kabar apapun tentang mereka. Yang datang saat itu adalah kabar duka untuk beberapa temannya yang kehilangan orang tuanya pascamusibah tersebut. dia berusaha menghibur dan memotivasi sang teman di saat perasaan dan pikirannya sendiri yang tak tenang memikirkan kesalamatan orang tuanya.Akhirnya haripun berganti, namun belum juga ada kabar tentang mereka. Tiba-tiba dari kejauhan asrama putri, cewek itu melihat seorang sosok yang sangat ia kenal, rupanya itu adalah abangnya , Indriansyah. Dari abangnyalah maulit memperoleh kabar bahwa ibu, almarhumah Rosnainar, telah menjadi korban dasyatnya gelombang tsunami yang melanda Aceh. maulita jatuh dan terpuruk, akan tetapi tak ada tetesan air mata yang mengalir di pipi, melainkan hanya diam seribu diam yang ia tunjukkan kala itu. maulita masih tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh sang abangnya. Bahkan diam-diam dia masih tetap meyakinkan bahwa ayah dan ibunya pasti akan selamat dari musibah tersebut. Hanya doalah yang menjadi senjata untuk memperjuangkan harapan besar yang dia punyai saat itu.Dua minggu sudah berlalu pascamusibah gempa dan tsunami, namun ayah dan ibunya belum juga menjenguk ke pesantren. Biasanya, mereka selalu berkunjung setiap satu minggu sekali, tapi kali ini keadaan telah berbeda, meraka tak kunjung juga datang. Harapan besar yang di milikinya saat itu pun semakin membuat ia ragu akan keselamatan mereka. Ketika itu, suasana di pesantren semakin sepi. Semua santri dibolehkan pulang ke rumah masing-masing. Bahkan semua teman-teman satu angkatannya pun ikut menghilang, pulang bersama keluarganya. dia hanya ditemani oleh beberapa para guru yang tetap setia menemani untuk menunggu kedatangan orang tuanya . Tak ada tangisan dan keraguan yang dia tampakkan di depan mereka. ia hanya bisa menangis, dia saat tak bersama mereka. Menangis di dalam doa untuk keselamatan ayah dan ibunya, saat itulah yang dipilih untuk menumpahkan air mata.Sore harinya, seorang teman, Mustika Adilla, dan kakaknya Nila Angggraini berkunjung ke pesantren. Mereka terkejut saat melihat saya masih berada di situ dengan para pembimbing pondok. Dila dan kakaknya mengajak dia tinggal bersama keluarga mereka. Cewek tersebut menolak ajakan itu. dengan Alasan ia masih tetap sama: dia tetap ingin menunggu sampai ayah dan ibunya yang menjemput. Walaupun demikian, ternyata sang teman dan kakaknya tidak juga menyerah. Keesokan harinya mereka kembali dan lagi-lagi mengajak lagi, untuk ikut bersama mereka. Para guru pun mendukung ajakan temannya itu, dengan alasan akan membantu menunggu kedatangan ayah dan ibunya di pesantren. Akhirnya dia pun menyerah dan ikut bersama mereka.Setibanya di rumah sang kawan, Ibu Ernawilis, orang tua temannya itu menyambut kedatangan gadis itu dengan ramah. “Anggap saja keluarga ini seperti keluargamu sendiri nak,” kata ibu Ernawalis. Ketika mendengar ucapan itu, rasanya ingin sekali menangis. Tapi melihat senyum keikhlasan dari keluarga itu, membuat ia tidak ingin menjatuhkan setetes air mata pun di depan mereka. Gadis itu kembali menampakkan ketegaran di depan semua orang. Akhirnya keluarga mereka menjadi keluarga baru untuk dirinya.Satu bulan berlalu pascamusibah itu, semua santri kembali ke pesantren dan melanjutkan proses belajar-mengajar yang sempat berhenti akibat musibah gempa dan tsunami. Walaupun keadaan di pondok terlihat seperti biasanya, namun semangat hidup gadis tomboi itu tidak lagi seperti dulu. Dia tidak lagi menyempatkan waktu bersama teman-teman untuk bersenda gurau, gadis tersebut lebih memilih untuk sendiri dibanding berbagi cerita dan tertawa bersama mereka. Kini si gadis tomboi yang periang itu telah berubah, tidak ada lagi tawa lebar yang ia berikan untuk kehidupan.Tidak terasa enam bulan telah di laluinya dengan seribu harapan akan keselamatan ayah dan ibunya. Namun, mereka tidak kunjung juga datang memberikan kabar gembira, dan mengembalikan cahaya matahari yang pernah berkabut untuk menjadi cerah kembali. Gadis itu terus menunggu mereka di tempat mereka pernah mengantar dirinya untuk menuntut ilmu.Ketika hari terus berganti, tiba-tiba pihak pesantren mendapatkan undangan bagi anak-anak korban tsunami, untuk mengikuti Ashinaga International Summer Camp di Jepang. Maulita terpilih sebagai salah satu peserta dari 26 orang santri. Tanggal 30 Juni 2005 silam, kami pun berangkat ke Negeri Sakura. Rasanya seperti mimpi karena bisa melihat negara lain yang jauh dari tanah air.Ternyata, tidak sia-sia saya berkunjung ke Jepang, banyak hal yang mengajarkan dirinya akan arti semangat hidup, dimulai dari mengejar mimpi hingga kesadaran untuk tidak boleh berlama-lama larut di dalam kesedihan.Di sana, ia bergabung dengan anak-anak yatim dari 19 negara lainnya. mereka saling membagikan pengalaman pahit yang pernah kami punya. dirinya mulai sadar akan arti semangat hidup saat mendengar cerita salah seorang anak India yang kehilangan ibu-nya ketika tsunami melanda kampung halamannya.Memang, baginya, ia masih terlalu kecil untuk kehilangan ibunya. Luar biasa, ketika ia terlihat begitu tegar dan sabar. Ketika itu gadis tomboi itu sadar, bahwa dirinya harus bisa menjadi seperti anak kecil itu. Lalu, iapun pun kembali mengingat tentang cita-cita yang pernah saya impikan. Dia bertekad ingin membuat mimpi itu menjadi nyata. Begitulah perjalanan singkat Maulita ke Negeri Sakura. Ada banyak perubahan yang ada dalam tekad dirinya, ketika ia kembali kembali pulang ke Aceh. Salah satunya, meningkatkan usaha belajar, walau tak ada lagi orang tua yang selalu mendukung. dirinya sadar, bahwa masih punya teman-teman dan guru yang selalu mendorong dan memberikan motivasi untuk kembali bangkit dari kesedihannya.Setelah semua usai, ia pun memperoleh beasiswa S1 di salah satu universitas ternama di Jepang. Dan kini dia telah menjadi mahasiswi Universitas Waseda di Tokyo.Mikial Maulita terus berusaha untuk mengejar mimpi yang pernah singgah di hidupnya . Namun, perjalanan nya memang belum berakhir sampai di sini. Gadis itu ingin membuktikan kepada anak yatim di dunia, bahwa kita tidak perlu berputus asa untuk semangat dan bermimpi. Karena, kehilangan orang tua bukanlah alasan untuk membuat kehidupan menjadi lebih buruk.dia yakin dan percaya,bahwa ayah dan ibunya akan selalu tersenyum bahagia dengan prestasi yang bisa dia raih sampai saat ini. Editing 21/03/2012
Langganan:
Postingan (Atom)